Hujan dan Luka itu

27102017
Dini hari yang sangat dingin (01.17 am) hujan sejadi jadinya, angin beradu sekencang kencangnya, petir pun tak mau kalah menggelegarkan suara mengejutkannya seperti    sedang marah membentak bentak  ku.
Ada segelintir ketakutan,   ada beribu kerinduan juga berjuta kehilangan.
Ini adalah hujan terbesar pertama, petir terbesar pertama yg pernah datang, sejak bulan Agustus aku singgah di kota istimewa ini.
Hujan, mengapa kau tak bersahabat ? Petir, mengapa kau harus mebentak bentak?
     *****
Di sisi lain, ada juga hati yang meringis, ada hati yang menangis, ada hati yang menjerit.
Meringis dan menangis menahan luka, menahan perihnya akan hinaan juga perihnya kehilangan,
Untuk semua yang terjadi, tak selalu hati ini salah, hakikatnya ia hanya ingin d perlakukan dengan hormat, ingin di perlakukan dengan sehat dan ingin di sayangi. pun begitu, dia pun di tuntut untuk hormat, setia, menjaga dan menyayangi. Namun bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu jika dia mendapat perlakuan yg tak sepantasnyaa?
Hujan? Apakah salah hatiku?
Apakah hatiku harus ku tempah kuat mendengar kata-kata tajam itu?***
Hujan..
Maafkan aku, maafkan aku yg tak mampu menahan perihnya luka atas perkataan tajam itu. Maafkan aku yang menyerah kepada sumpah ku yang terus ingin bersamanya.  Salahkah aku yang tak kuat menahan kata kata itu hujaaan??
Jawab hujan?! Mengapa kau membisu namun air mu terus membanjiri? Andai kau tau, bahkan kata kata itu lebih tajam dari belati, lebih menusuk dari panah runcing tajam, lebih berbisa dari racun ular paling berbahaya.
Yaa itulah dia. Lantas apakah aku harus diam saja?? Ah, sudahlah. Membahas ini semakin menambah lebar luka hati ini. ***

Komentar